Rabu, 04 April 2012

DEPAKENE SYRUP


Aku semakin yakin dan percaya bahwa kekuatan do'a lebih utama dibandingkan vonis dokter ahli sekalipun, depaneken syrup inilah yg menjadi saksinya.


Anakku Helmi mengalami kejang berulang meski panasnya tidak begitu tinggi, waktu itu usianya menginjak enam tahun. Kami sangat panik apalagi menurut dokter yg memeriksa Helmi, kejang berulang di usia lebih dari lima tahun bukanlah hal yg normal dan merupakan indikasi penyakit epilepsi.

Epilepsi...? sebagai seorang ibu hatiku hancur mendengar vonis itu. Terbayang dibenakku anakku yg sakit, tidak memiliki masa depan, terkucil dari pergaulan. Dalam kondisi seperti itu, ingin rasanya membawanya serta jika aku mati. Itulah yg benar-benar aku rasakan waktu itu, duniaku gelap segelap masa depan anakku jika ia betul mengindap epilepsi.
 
Tapi hati nuraniku berkata lain, aku tidak boleh meyerah apalagi putus asa hanya karena vonis yg dijatuhkan dokter.
Kami mendatangi dokter spesialis saraf untuk mengkonsultasikan perihal anakku, dan jawaban yg aku dapatkan adalah.... benar anakku menderita epilepsi, depaneken syrup inilah yg diberikan oleh dokter spesialis saraf tersebut sebagai obatnya. MasyaAllah....dunia terasa runtuh didepanku.

Tapi sekarang bukan waktunya meratap!! (dalam hati aku bertekad).
Entah karena keyakinan atau penolakan, aku merasa anakku bukan pengindap epilepsi, karena keyakinan itulah obat depakene syrup hanya aku simpan tanpa memberikannya pada Helmi. Sepengetahuanku obat epilepsi memiliki efek samping yaitu menjadi hiperaktif, oleh karena itu aku tidak mau meminumkannya sebelum segala sesuatunya jelas.

Akhirnya kami sepakat membawa Helmi ke sebuah rumah sakit untuk dilakukan rekam otak, dan perlu waktu satu pekan untuk mengetahui hasilnya.
Selama menunggu satu pekan itulah setiap saat, setiap waktu aku selalu memohon pada Allah semoga vonis dokter tentang penyakit anakku tidak benar, dan semoga hasil rekam otak anakku mendukung ketidak benaran itu.

Segala puji hanya kepada Allah dan maha kuasa Allah atas segala sesuatu.
Dokter yang membacakan hasil rekam otak anakku menyatakan bahwa Helmi tidak menderita epilepsi, hasil rekam otaknya normal tidak ada indikasi kearah itu. Terbukti sudah keyakinanku bahwa anakku memang bukan pengindap epilepsi. 

Aku tidak menyalahkan dokter yg memvonis anakku karena aku yakin  peristiwa ini adalah kehendak dari Allah swt.
Selain karena keyakinanku sebagai seorang ibu, aku juga percaya kalau kita memohon kepada Allah dan tidak berputus asa atas rahmatNYA, maka Allah pasti akan menolong kita.

Hanya satu kali itu saja Helmi mengalami kejang berulang, setelah itu hingga sekarang peristiwa itu tidak pernah terjadi lagi ini menandakan bahwa anakku memang bukan pengindap epilepsi. Depakene syrup aku simpan sebagai kenang-kenangan atas peristiwa yg menimpa anakku.

Ya....Rabb hanya kepadaMU lah aku bersyukur atas karunia yg tidak terhingga ini.

5 komentar:

  1. mudah -mudahan cepet sembuh ya bundaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. mksh Mbak Dewi...tapi itu peristiwa lama sekitar 3 th yg lalu, mksh follownya insyaAllah di follback...salam kenal.

      Hapus
  2. mbak sri,

    gmn skr anaknya? sehat2 aja kan? sudah tidak pernah kejang lagi?
    anak saya juga kejang disuruh minum depakene.

    BalasHapus
    Balasan
    1. maaf mbak sis baru sempet jawab pertanyaannya krn hampir satu bulan ga on line :)

      Alhamdulillah helmi ga pernah kejang lagi sampai sekarang

      sy ikut prihatin atas kondisi ank mba sis tapi teknologi kedokteran sekarang sudah maju insyaAllah penyakit epilepsi bisa sembuh. Anak tetangga juga sering kejang tapi sekarang sudah sembuh setelah minu obat selama 6 bln (kl ga salah) Skrng anak tersebut sudah remaja dan kondisinya normal :) Tetap semangan mbak insyaAllah semuanya akan baik 2 saja :)

      Hapus
  3. bukan meremehkan dokter Indonesia ya mba, adikku sendiri juga dokter spesialis THT.. tp apapun yg divonis dokter ke kita, memang hrs dicari sampe third opinion ke dokter2 lain, kalo perlu dokter negara luar apa vonisnya bnr... aku prnh ngalamin salah vonis bgini soalnya... Mamaku yg selalu sakit perutnya, dan berasa ada benjolan, dibilang cuma kista doang dan ga berbahaya... tp lama klamaan sakitnya menjadi bhkn sampe pingsan... akhirnya dibawa ke 2 dokter malaysia, dan terbukti mama tumor dan udh parah.. mau ga mau hrs operasi angkat rahim.. krn udh telat.....itu dokter pertama yg memvonis hanya kista bnr2 aku raguin dpt ijazah dokternya dari hasil bljr ato cuma duit doang -__-

    BalasHapus