Kamis, 02 Mei 2013

Dangdut Pertelon

Disore hari ketika aku menemani Yumna main di luar rumah, ada segerombolan bapak-bapak dan ibu-ibu, diantaranya juga anak muda, yang memainkan musik dangdut di pertigaan gang belakang. Yuman yang jarang melihat aksi seperti itu, menarik tangan ku agar mendekat. Rupanya Yumna penasaran dan ingin melihat di depannya persis. Meski enggan aku menuruti saja keinginan Yumna.
 
Beberapa lagu dinyayikan oleh seorang perempuan, salah satu dari anggota grup musik ini. Suaranya cetar membahana bisa didengar oleh semua orang yang berada disekitar pertigaan Jl. Mawar I. Alat musik yang mereka bawa berupa orgent tunggal, mikrofon dan pengeras suara yang di letakkan dalam gerobak. Mereka membawanya dengan cara didorong.

Setelah dua lagu dinyanyikan, salah satu dari mereka berkeliling meminta saweran dari rumah kerumah di sekitar pertigaan. Juga kepada para penonton yang berada di dekat mereka tak terkecuali aku. Aku pun memberi uang saweran, bukan karena aku puas menikmati lagu-lagu mereka, tapi sekedar rasa empati melihat cara mereka mencari nafkah. 
 
Alih-alih menikmati lagu-lagu mereka, yang ada kepalaku pusing karena mereka menyanyikan lagu dangdut lama, huff. Setelah menyanyikan tiga buah lagu dan mendapat beberapa rupiah uang saweran, mereka berhenti, kemudian berpindah ke pertigaan gang Mawar II. Dipertigaan Mawar II mereka melakukan hal serupa dan seterusnya hampir disemua pertigaan yang ada diperumahan kami.
 
Memang seperti itulah cara pemusik jalanan melakukan aksinya untuk mencari nafkah. Seringnya mereka menggelar aksinya di tempat-tempat strategis seperti pertigaan, agar mudah dilihat oleh banyak orang. Itulah kenapa aku menamainya DANGDUT PERTELON yang artinya musik dangdut yang digelar dipertelon atau pertigaan.
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar