Minggu, 30 Maret 2014

Polusi Suara Tiada Tara

Semenjak jalan yang melintas di depan rumah kami diambil alih oleh pemda setempat dan dijadikan jalan alternatif, lalulintas kendaraan jadi semakin padat. Polusi suara dan polusi udara pun, tak terhindarkan.

Kebisingan yang semakin sangat setiap hari, sepertinya masih belum cukup. Tetangga sebelah kanan kami, selisih satu rumah dari rumahku, membuka bengkel motor tepat di depan rumahnya.

Suara motor dari bengkelnya yang meraung raung, semakin memekakkan gendang telinga. Meski diawal beroprasinya, bengkel tersebut sudah mendapat teguran dari Pak Rt,  namun semua itu tidak digubris. Bengkel tetap beroprasi hingga sekarang. Si empunya bengkel tidak mengindahkan aturan bahwa sebenarnya bengkel tidak diperbolehkan beroprasi di tengah-tengah perumahan penduduk.


Sangat tragis, ternyata polusi suara tidak hanya berasal dari luar rumah kami. Tapi dari dalam rumah kami sendiripun ada sumber kebisingan yang akhir-akhir ini baru aku sadari.

Sumber kebisingan itu berasal dari mesin pompa air!
Bukan karena kami baru memasang mesin itu sehingga baru menyadari kebisingannya. Tapi karena ada perubahan posisi tampungan air, yang akhirnya berpengaruh kepada lamanya mesin air itu menyala.

Sebelumnya, tampungan air diletakan di lantai atas yang waktu itu baru di dak. Jadi ketinggiannya hanya sekitar 3 meter. Tapi setelah kami mendirikan bangunan, tampungan air itu kami tempatkan di atas kamar mandi lantai dua dengan berbagai pertimbangan.

Akibatnya kemampuan mesin air untuk memompa menjadi berkurang. Untuk membuat  tampungan air penuh, mesin air harus menyala lebih dari tiga jam! Selama tiga jam ini pula, suara bising dari mesin air memenuhi setiap rongga udara dalam rumahku.

Ini belum termasuk suara televisi yang disetel anakku. Masih ditambah lagi suara mesin cuci, jika aku sedang menggiling baju.

Huff! Bisa dibayangkan, betapa bisingnya rumah kami yang hanya berukuran 80 m2, ketika semua benda-benda tersebut dinyalakan secara bersama-sama. Polusi suara yang tiada tara!

Tapi...apapun kondisinya, semua itu tidak untuk dikeluhkan. Setiap masalah, pasti datang beserta solusinya.

Sepertinya, kami harus segera mengganti mesin air yang memang sudah lama kami pergunakan. Mesin air harus diganti dengan yang semi jet pump. Mesin air semi jet pump, lebih kuat memompa air, sehingga tidak memerlukan waktu lama untuk mememenuhi tampungan air yang sekarang letaknya 6 meter diatas tanah.

Tentang lalulintas yang ramai didepan rumah, yah, diambil positifnya aja. Dengan letak rumah yang berada di jalan utama, akses kemana-mana jadi lebih mudah. Nilai rumah juga semakin tinggi dari tahun ketahun. Bahkan beberapa orang yang tinggalnya di gang belakang, menginginkan rumah diposisi seperti kami, agar bisa mambuka usaha.

Ya, membuka usaha!  Ini adalah nilai lebih yang lain dari rumah kami. Bisa dijadikan tempat usaha!

Jadi, rasanya tidak pantas kalau kami mengeluhkan setiap kekurangan yang ada, sementara kebaikkan yang bisa didapatkan sangatlah banyak.

Lebih baik bersyukur, karena dengan bersyukur kita akan jadi lebih baik (.)



6 komentar:

  1. betul bu.. semua pasti ada hikmahnya.. di syukuri aja.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, harus tetap senyum dan syukur :)

      Hapus
  2. Iya, semua yang terjadi pasti ada maksudnya. Ide untuk dijadikan tempat usaha boleh juga, tuh :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali.

      Makasih kunjungannya :)

      Hapus
  3. Kalau di Pekanbaru semua pake pompa mbak karena air PAM belum menjangkau semua rumah. Tapi ngisinya kok lama banget ya, smp 3 jam. Dirumahku sehari paling aku ngisi 2x, sekali ngisi 1/2 sampai 1 jam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya begitu Mbak Lusi, semenjak tampungnnya dinaikkin lagi, jadi lama ngisinya :(

      Hapus