Rabu, 20 Agustus 2014

Dua Makhluk Asing di Rumah Kami

Aku memiliki tiga orang anak dan satu orang suami. Namun, penghuni rumah kami bukan  berjumlah lima orang tapi 7. Loh, kok, bisa? Ya, memang demikian. 

Selain kami berlima, ada dua makhluk hidup lain yang setia, siang dan malam tinggal dan menetap dirumah kami. Sedikitpun kami tidak merasa terganggu atau keberatan dengan keberadaan mereka. Begitupun sebaliknya, mereka terlihat kerasan tinggal dirumah kami, dan tidak merasa terganggu dengan keberadaan kami. 

Setiap kali mereka muncul dan anak anakku berusaha mendekati serta hendak menyentuhnya, aku selalu mengingatkan. "Nak, jangan diganggu ya, biarkan saja."  Ketiga anakku pun mematuhi kata-kata ku.

Siapakah dua mahluk tersebut? Apakah mereka termasuk bangsa jin atau mahluk kasat mata?
Dua mahluk tersebut  adalah....dua ekor keong milik Helmi!

Seperti biasa, Helmi memang gemar membeli hewan peliharaan. Beberapa binatang yang pernah dibelinya antara lain :  kelinci, hamster, burung, anak ayam, ikan hias dan keong atau siput laut.

Meski tergolong penyayang binatang, tapi anak-anak tetaplah anak-anak. Hanya ketika baru membeli saja Helmi penuh perhatian. Tak pernah terlambat memberi makan, membersihkan kandangnya juga memandikan.

Namun setelah bosan, Helmi mulai acuh tak acuh.
Sebagai orang yang setiap hari ada dirumah, mau nggak mau akulah yang merasa bertanggung jawab untuk mengurus binatang binatang tersebut. Sebenarnya, bisa saja aku cuek. Tapi, ini kan mahluk hidup, nggak mungkin juga aku membiarkan mereka mati kelaparan. 

Seperti halnya dua ekor keong ini.
Awalnya mereka diletakan disebuah kaleng. Aku memberinya makan berupa potongan kelapa, dan air yang dituangkan pada sebuah wadah, bekas mainan Yumna. Namun, setelah beberapa hari, aku perhatikan potongan kelapanya kok, masih utuh, dan air minumnya pun sepertinya tidak berkurang.

Apa keong tidak suka kelapa ya? Aku membathin. Akhirnya aku meletakan beberapa lembar daun. Mungkin ia lebih suka sayur sayuran. Pikirku. 

Namun, setelah satu hari berlalu, aku lihat daun yang aku letakkan masih utuh seperti semula. Aku merasa khawatir,  khawatir keong itu akan mati kelaparan. Akhirnya aku putuskan untuk melepaskan keong itu di dalam rumah. Dan aku membiarkan mereka mencari makan sendiri, apa yang mereka suka.

Aku sengaja tidak melepaskan keong-keong tersebut diluar, karena aku khawatir mereka akan terinjak atau terlindas roda kendaraan. Belum lagi ancaman kucing atau tikus yang siap memangsanya.

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan berlalu (mungkin sudah lebih dari 5 bulan), dua ekor keong itu masih ada. Mereka masih hidup dan masih berkeliaran didalam rumah kami. Sesekali mereka muncul dihadapan kami, berjalan untuk mencari makanan (nggak mungkin berjalan mau ngantor kan? :p).

Disaat mereka muncul, biasanya anak anak berusaha memegangnya. Namun aku selalu mengingatkan agar mereka melepaskannya kembali. Alhamdulillah mereka patuh.

Sekarang kami sudah terbiasa dengan keberadaan keong-keong tersebut. Jika mereka muncul dihadapan kami, anak-anak sudah tak lagi menghiraukannya. Mereka membiarkan keong keong tersebut berlalu tanpa mengganggunya.

Kami selalu berharap semoga keong keong tersebut diberi umur panjang, agar setiap waktu bisa melihatnya berkeliaran di dalam rumah kami.[SK]




1 komentar: