Minggu, 27 November 2011

ANAKKU TIDAK MAU SEKOLAH part 2

Mengikuti anjuran Pak Win, setelah lulus TK aku menyekolahkan Helmi kesekolah biasa (SD Negeri) bukan ke full day school seperti SD IT. Hal ini dikarenakan Helmi memiliki konsentrasi yang tidak bisa bertahan lama.
Seperti halnya di TK, pada awal masuk sekolah Helmi kelihatan bersemangat, tapi beberapa hari kemudian masalah kembali muncul. Anakku tidak mau sekolah, yah...memang anakku sedikit berbeda dengan anak-anak yang lain, tapi menurutku perbedaan itu masih wajar. Bukankah setiap anak itu berbeda? tidak akan pernah sama antara anak satu dengan yang lain? Kesabaranku kembali di uji.

Berdasarkan informasi yang aku peroleh, ternyata Helmi mendapat teguran keras dari seorang guru, di karenakan anakku bermain di dalam kelas pada saat pelajaran sedang berlangsung.
Di usia sekolah yang baru dua minggu, Helmi belum begitu paham bahwa SD berbeda dengan TK. Dia belum begitu mengerti bahwa sekolah di SD harus lebih serius di bandingkan di TK yang cara belajarnya dilakukan sambil bermain.

Aku sangat menyayangkan sikap guru yang memperlakukan Helmi dengan begitu keras, hingga membuat Helmi trauma untuk pergi kesekolah. Sebenarnya membuat anak trauma adalah sebuah pelanggaran berat bagi seorang guru, atas saran beberapa teman, aku dianjurkan untuk melaporkan kasus ini kepihak yang berwenang, bahkan aku bisa menuntut guru tersebut jika aku mau.

Tapi itu tidak aku lakukan, aku tidak setega itu, meskipun sebagai ibu aku merasa sakit hati.
Setelah hari itu anakku tidak mau lagi bersekolah, berbagai cara sudah aku lakukan. Dari memindahkan dia kekelas lain, sampai memindahkan Helmi kesekolah baru seperti yang di sarankan oleh Pak Win. Helmi tetap menolak, dia sudah tidak berminat lagi untuk sekolah. Setiap aku konsultasikan masalah ini dengan Pak Win jawabannya selalu sama, Helmi tetap harus bersekolah karena sudah masanya, kalau menunggu tahun depan, sifatnya gamebling, bisa jadi tahun depan Helmi mau sekolah, bisajadi tidak. Dalam masa adaptasi aku dianjurkan untuk menemaninya, dan mengkomunikasikan masalah Helmi dengan guru pengajarnya.

Berkomunikasi dengan guru itu mudah aku lakukan, tapi kalau harus menemani Helmi dari dia berangkat sampai pulang sekolah, itu sesuatu yang sulit.
Ketika Helmi masuk kelas satu, aku baru saja melahirkan anakku yang ketiga, waktu itu bayiku baru berumur dua bulan. Aku memberinya asi eksklusif sehingga aku tidak bisa meninggalkannya di rumah, tapi untuk menbawanya pun aku khawatir kesehatannya akan terganggu. Sebuah kondisi yang dilematis, disisi lain aku menginginkan anakku tetap sekolah, tapi di lain pihak aku mengkawatirkan bayiku. Akhirnya kami memutuskan untuk memenuhi "keinginan" Helmi yaitu berhenti sekolah untuk sementara.

Satu hal lagi yang membuat masalahku semakin bertumpuk saat itu adalah, orang tua yang sedang sakit di kampung halaman, padahal sekitar dua bulan lagi beliau akan menunaikan ibadah haji. Entah karena hal apa, Bapak sakit hingga harus lima kali melakukan rawat inap di rumah sakit, bahkan akhirnya sempat memutuskan untuk membatalkan keberangkatannya ke tanah suci.
Sebagai anak tunggal, aku merasa terpanggil melihat kondisi ini, karena sebelumnya Bapak selalu meminta aku untuk pulang dan menetap dikampung halaman.

Akhirnya dengan persetujuan suami, aku beserta anakku pindah kekampung halaman untuk waktu yang aku belum tahu, apakah sementara atau selamannya. Niatku waktu itu ingin menemani dan memberi semangat kepada Bapak, agar beliau segera sembuh dan melanjutkan rencananya untuk pergi ke tanah suci, sekaligus juga berniat ingin menyekolahkan Helmi di kampung halaman, mudah-mudahan ia mau bersekolah lagi.

Alhamdulillah apa yang aku niatkan tercapai, entah karena kehadiranku atau karena hal lain, kesehatan Bapak berangsur-angsur pulih dan beliau beserta ibu kembali melanjutkan rencananya pergi ke tanah suci. Sedangkan anakku Helmi mau bersekolah meskipun tidak serta merta, tapi berproses, dan proses itu memakan waktu kurang lebih 3 bulan. Sungguh sebuah kondisi yang memerlukan banyak kesabaran.

Setelah semuanya berlalu, bapak dan ibu sudah kembali dari tanah suci, dan Helmi pun sudah mau bersekolah seperti anak-anak lain dan tidak keberatan untuk pindah sekolah, aku beserta anak-anakku kembali ke Bogor untuk berkumpul lagi dengan ayah mereka. Aku tidak ingin anak-anakku tidak mendapatkan kasih sayang yang cukup dari ayahnya.

Menjadi orang tua tidaklah mudah, menjadi ibu tidaklah gampang. Menjadi ibu adalah sebuah universitas kehidupan buatku dimana didalamnya aku selalu belajar, belajar mendidik anak dengan baik, belajar bersabar, dan belajar menghadapi berbagai macam problema kehidupan. 

Sekarang Helmi telah duduk di bangku sekolah kelas dua SD, mudah-mudahan peristiwa yang menimpa Helmi tidak terulang lagi kepada siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar