Kamis, 22 Januari 2015

Toples Lebaran

Mudik adalah saat yang paling ditunggu bagi perantauan seperti aku. Utamanya mudik lebaran. Meski harus berjam-jam bahkan puluhan jam terjebak kemacetan, buatku tidak masalah. Asalkan bisa pulang kampung, bertemu orangtua dan saudara, semua hambatan tidak aku pedulikan.


Pulang tanpa membawa oleh-oleh rasanya tidak mungkin dan malu hati. Apalagi waktu itu aku sudah bekerja. Setelah lulus kuliah, aku merantau ke kota Tanggerang, untuk bekerja disebuah klinik kesehatan. Meski gajiku waktu itu belum seberapa, tapi aku sangat ingin membelikan ibuku sesuatu sebagai oleh-oleh.

Tapi, oleh-oleh apa yang pantas aku berikan pada ibuku? Sementara jumlah uangku tidaklah banyak. Aku memutar otak. Tiba-tiba aku teringat toples ibuku yang tidak pernah ganti. Dari lebaran ke lebaran toples itu saja yang selalu dipakai untuk menyimpan kue sebagai suguhan. 

Ibuku orangnya praktis dan simple. Barang-barang yang menurut beliau masih bisa dipakai, akan tetap dipakai meski modelnya sudah ketinggalan jaman alias jadul. Bahkan sudah tidak seragam, antara satu dengan yang lain berbeda model dan warnanya. Buat ibuku model tidaklah penting, yang penting manfaatnya. Begitu ibuku pernah "ngendikan".

Setelah menemukan ide, aku pergi ke toko prabotan. Di sana ada berbagai jenis toples. Aku tertarik pada enam buah toples yang menurutku bentuknya bagus dan perpaduan warnanya pun pas. Ssst....dan yang penting, harganya cocok dengan kantongku sebagai seorang karyawan yang baru bekerja beberapa bulan (bagian ini yang paling penting :D).

Merasa tidak mungkin membawa enam buah toples ketika mudik yang pasti berdesak-desakkan, aku memutuskan untuk mengirimkannya jauh-jauh hari sebelumnya, melalui jasa pengiriman. Buatku cara ini lebih aman dan praktis. Aku tidak perlu repot menenteng barang bawaan kesana kemari. Apalagi menjelang lebaran, tiket bis susah didapat.

Hanya dalam waktu beberapa hari, kirimanku sudah sampai dikampung halaman. Berarti, aku tidak salah pilih jasa pengiriman. Aku membathin. Aku sengaja menggunakan alamat kantor ayahku untuk memudahkan.

Ketika paketan sampai di kantor ayahku, kurir yang mengantar, membawanya sambil terbungkuk-bungkuk seolah berat. Karena ukuran kardusnya lumayan besar, teman ayahku yang kebetulan menerima pun, percaya dan menyangka kalau barang yang akan diterimanya memang berat banget. Dengan kekuatan penuh teman ayahku mengangkat kardusnya. Dan apa yang terjadi? Kardus terlempar ke udara seolah dilontarkan dengan kekuatan penuh. Sontak orang yang melihat tertawa ngakak :D

Beruntung barang didalamnya terbuat dari plastik, jika terbuat dari kaca, hancur mina, deh semua. Meski sempat ada insiden, alhamdulillah, kirimanku sampai dengan selamat dan ibuku menerimanya dengan suka cita. Keesokan harinya, toples-toples itu dipakai ibuku untuk menempatkan kue lebaran, menggantikan toples-toples lama yang sudah usang.





6 komentar:

  1. Wah..ibu pasti senang ya mba..lucu insidennya ada2 aja..:D

    BalasHapus
  2. Hihihii...iya insiden toples terbangnya lucu. Udah terlanjur mengerahkan tenaga ya yg mau nerima :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oiya, harusnya judulnya toples terbang ya?... Ah, telat :)

      Hapus
  3. Wah asyik yaaa, penasaran sama bentuk toples spesialnya niiih..

    (dzofar.com)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu cerita lama, kira2 16 th yang lalu. Mungkin sisa2 toplesnya masih ada, tapi di kampung....

      Hapus